Terima Kasih Buruh Jawa Timur
Alhamdulillah, aksi turun ke jalan oleh ribuan buruh Jawa Timur untuk mengawal usulan #UMK2021TetapNaik yang memadati jalan-jalan protokol di Sidoarjo dan Surabaya sebagai pelampiasan sakit hati pasca pengesahan Omnibus Law, berjalan dengan tertib, kondusif, dan berakhlak tanpa diwarnai tindakan kekerasan yang berujung anarkis.
Selama satu hari penuh, dari pagi hingga malam, keringat ribuan buruh itu menetes di sepanjang jalan Ahmad Yani, Darmo, Basuki Rahmad, Pemuda, hingga Pasar Besar di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Tetapi tak ada sedikit pun darah yang menetes tersebab aksi anarki, vandalisme, maupun tindakan represif aparat keamanan. Aksi benar-benar diselimuti suasana penuh kedamaian.
Maka, dada siapa yang tak akan bergetar ketika menyaksikan ribuan kasta sudra (baca: buruh) dari berbagai wilayah di Jawa Timur itu tampak membentangkan poster, spanduk, pamflet, sembari mengibarkan panji-panji sebagai simbol identitas mereka—meskipun dibakar orasi berapi-api sebagai penyemangat perjuangan—tetap dalam satu komitmen: menyampaikan pendapat di muka umum berlabel santun. Limpahan kedamaian dan kerukunan (buruh dan aparat) di bulan Pahlawan benar-benar terasa menyinari Kota Pahlawan.
Seharusnya, seluruh elemen masyarakat di tanah air melihat aksi buruh Jawa Timur ini. Bagaimana menyampaikan pendapat, usulan, dan ketidakpuasan tidak selalu disertai aksi vandalisme. Hanya orang yang benci kepada buruh yang hatinya tidak tersentuh ketika menyaksikan aksi unjuk rasa yang melibatkan ribuan massa mengusung tekad sebagai gerakan tertib dan kondusif.
Terima kasih Gubernur Jawa Timur, Kofifah Indar Parawansa beserta para pejabat teras Pemprov yang dengan terbuka menerima kedatangan ribuan rakyatnya. Lagi-lagi ini membuat dada ribuan buruh bergetar sebab terharu, ketika gubernur perempuan pertama di provinsi ini menyatakan menerima usulan buruh #UMK2021TetapNaik dan berjanji mengesampingkan kebijakan Menteri Tenga Kerja Republik Indonesia, Ida Fauziyah yang menetapkan Tidak Ada Kenaikan UMK 2021, serta akan mengumumkan hasilnya lusa. Iya begitulah, hanya dengan mau menerima usulan saja sudah membuat bahagia. Soal dikabulkan atau tidak, Dewan Pengupahan tentu sudah melakukan kajian kelayakan kenaikan di tengah libasan pandemi global COVID-19.
Ungkapan terima kasih juga patut kita persembahkan kepada seluruh pimpinan Kepolisian dan TNI di wilayah Jawa Timur beserta jajarannya yang telah mengawal aksi buruh dengan sangat persuasif. Kami, ribuan buruh jadi merasa terlindungi. Jauh dari nuansa rasa ketakutan yang selama ini menghantui setiap aksi kami. Seharusnya memang demikianlah aksi dan interaksi di antara tiga elemen bangsa: Polisi melindungi dan mengayomi, TNI menjaga persatuan, sedangkan buruh wajib menaruh hormat kepada aparat keamanan.
Ternyata, antara massa demonstran yang berjumlah ribuat dan aparat keamanan memiliki tekad sama. Tekad untuk menjaga Surabaya. Menjaga Jawa Timur dari gesekan sesama anak bangsa akibat kebijakan pemerintah yang terkadang menciderai asas keadilan sosial.
Tentu sudah sepatutnya jika ungkapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kami persembahkan kepada ribuan buruh dari semua Serikat Pekerja di Jawa Timur yang telah membuktikan bahwa aksi-aksi semacam ini tidak ditunggangi pihak ketiga. Bahwa tidaklah benar jika penyampaian pendapat di muka umum oleh buruh dianggap sebagai gerakan revolusi kepada pemerintah. Apalagi melibatkan diri dalam pusaran kegaduhan politik. Gerakan turun ke jalan pada hari ini menjadi catatan penting untuk mengubah paradigma baru unjuk rasa tanpa kekerasan: #KitaSemuaIndonesia. Terima kasih, Jawa Timur!
Heru Sang Amurwabumi,
Buruh dan Aktivis SP RTMM – SPSI, penulis emerging Indonesia di Ubud Writers & Readers Festival 2019










0 komentar: